Kenapa Tuhan di Perjanjian Lama Terkesan Sadis?

14 Februari 2016 Oleh Ted

Sebelumnya, Happy Valentine he he walaupun saya tidak merayakan hari kasih sayang ini, karena untuk menunjukkan rasa sayang itu bisa tiap hari. Tapi buat yang PDKT, Valentine boleh lah jadi momen yang pas untuk menunjukkan rasa lebih itu

Ok, sebelum keluar topik terlalu jauh, saya hanya ingin membahas singkat mengenai salah satu inti kotbah yang saya dapat di gereja hari ini, yaitu: Kenapa Tuhan yang tertulis di Perjanjian Lama (PL) terkesan begitu sadis? Contohnya, di datangkan air bah pada jaman nuh, Sodom dan Gomorah dimusnahkan, Orang Israel "dibantai" karena membuat berhala Lembu Emas, Warga mesir ditimpa tulah, warga Kanaan dihabisi / dibunuh habis semuanya, termasuk wanita dan anak-anak.

Jujur saja, saya juga pernah berpikir kenapa Tuhan di PL seperti tidak punya kasih, sangat berbeda dengan yang tertulis di Perjanjian Baru (PB). Sehingga secara ekstrim banyak orang yang "tidak mengakui" Perjanjian Lama, mereka hanya mau menerima PB dan menganggap PL hanyalah kitab sejarah saja yang tidak berarti.

Yup, saya pernah dalam kondisi seperti itu, yaitu tidak mau buka kitab PL atau secara tidak sadar mengatakan "Perjanjian Lama itu kitab yang tidak terlalu penting".

Anggapan tersebut sangatlah salah, jika mengerti PL, maka kita akan menemukan kesabaran dan kasih Tuhan yang luar biasa besar.

Saya akan berikan contoh yang menunjukkan begitu besarnya kesabaran dan kasih Tuhan Yang Maha Esa.

Anda tahu manusia tertua di Alkitab siapa? Jawabannya adalah Metusalah, dia berumur 969 Tahun sebelum mati.

Apa anda tahu arti nama Metusalah? Arti namanya adalah "Ketika dia (Metusalah) mati, maka akan datang penghukuman". Dan ini tepat terjadi, tidak lama setelah Metusalah meninggal, hukuman Tuhan yang berupa air bah dimulai.

Artinya apa? orang pada jaman tersebut, khususnya yang berasal dari keturunan Set mengetahui bahwa penghukuman Tuhan akan datang ketika Metusalah meninggal. Ini artinya Tuhan memberikan waktu yang sangat lama kepada manusia untuk bertobat sebelum penghukuman terjadi.

Dengan kata lain, walaupun manusia memberontak dan melawan Tuhan, tapi DIA memiliki kesabaran yang luar biasa besar. Bukanlah suatu kebetulan bahwa manusia tertua di bumi ini digunakan untuk melambangkan betapa lamanya kesabaran Tuhan terhadap dosa manusia.

Jika kita mempelajari Alkitab PL, maka kita dapat menemukan contoh-contoh lainnya, misalnya sebelum Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomora, Dia telah memperingatkan terlebih dahulu, lalu saat di Mesir Tuhan mengirimkan Tulah kepada bangsa Mesir untuk menunjukkan bahwa Dia-lah Tuhan yang sejati (dan ini artinya memberi kesempatan kepada orang Mesir untuk bertobat dan memilih Tuhan yang benar), dll.

Atau pada saat bangsa Israel membuat berhala lembu emas lalu terjadi perang saudara yang menyebabkan 3.000 orang mati. Sekilas terkesan seperti begitu sadis, namun sebenarnya Tuhan memiliki belas kasihan yang begitu besar karena masih membiarkan sebagian besar bangsa Israel lainnya (sekitar 600 ribuan laki-laki, belum termasuk anak istri) untuk hidup.

Tapi kenapa di kitab Perjanjian Lama, pada saat Israel berperang, Tuhan beberapa kali memerintahkan untuk menghapuskan penduduk suatu wilayah. Artinya membunuh semua orang termasuk anak-anak, wanita bahkan hewan. Bukankah itu sadis?

Menurut saya, orang modern sering menilai hal tersebut sebagai bentuk kesadisan karena terkendala dengan jurang budaya. Yang perlu kita ingat adalah, kitab Perjanjian Lama ditulis ribuan tahun yang lalu, dimana kondisi budaya berbeda dengan jaman sekarang.

Kita tidak bisa mengatakan Tuhan itu sadis atau tidak bila kita menutup mata keadaan pada jaman dahulu dan menyamakannya dengan jaman sekarang.

Sekarang saya ambil contoh salah satu alasan kenapa Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomora. Bisa dibaca pada kitab Kejadian 19:4-5: Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. Mereka berseru kepada Lot: "Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka."

Kata "Pakai" disini adalah dalam arti seksual. Artinya seluruh orang kota Sodom ingin melakukan praktek homoseksual terhadap dua malaikat Tuhan yang datang ke kota itu.

Sebesar itulah dosa kota Sodom dan Gomora. Belum terhitung dosa-dosa lainnya (selain homoseksualitas). Menurut anda apakah kota Sodom dan Gomora layak dibinasakan? menurut saya sih layak. Apakah dengan membinasakan kota tersebut kita bisa mengatakan Tuhan itu sadis? Tentu tidak, sebelum dihancurkan pun, Tuhan sudah memberikan peringatan.

Kita bisa tahu bahwa penduduk kota tersebut sudah ditegur sebelumnya, bisa dilihat dari Kejadian 19:9: Tetapi mereka berkata: "Enyahlah!" Lagi kata mereka: "Orang ini datang ke sini sebagai orang asing dan dia mau menjadi hakim atas kita! (Penduduk Sodom sudah mengetahui bahwa kedua malaikat tersebut akan menghakimi / menghukum mereka, bukannya bertobat, malah ingin berbuat bejat). Bahkan Tuhan sebelumnya berjanji tidak akan membinasakan seandainya ada minimal 10 orang benar di kota itu.

Tapi kenyataannya, selain Lot dan keluarganya, tidak ada orang benar di kota itu.

Catatan: saya menolak homoseksulitas, tapi saya bukan homofobia. Tentang topik ini lebih lengkap bisa dibaca disini.

Jadi, jika di dalam sebuah peperangan, Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk membinasakan seluruh penduduk sebuah kota. Pasti ada alasannya, yang pasti karena dosa mereka sangat besar dan yang terutama adalah karena mereka melawan Tuhan.

Bagaimana dengan jaman sekarang?

Kita harus ingat bahwa Tuhan itu selain kasih namun juga adil. Kita mungkin saja sedang hidup dalam jaman "Sodom dan Gomorah kedua" Namun Tuhan masih bersabar dan tidak memusnahkan manusia karena masih ada beberapa orang-orang benar.

Malah, mungkin kita sekarang justru "protes" dengan kesabaran Tuhan. Jika kita melihat kerusakan, kebejatan, pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukan oleh orang jahat di dunia saat ini, kita akan berpikir, "kapan sih Tuhan akan menghukum atau bahkan membinasakan orang-orang ini?"

Kita dapat mengambil prinsip-prinsip yang ada di Perjanjian Lama, yaitu mengenai menjaga kekudusan hidup, menghormati Tuhan, memberi persembahan, dll. Tapi kita tidak perlu melakukan kegiatan atau ritual di Perjanjian Lama seperti korban binatang, dsb karena sudah digenapi oleh Tuhan Yesus.

Yang ingin saya katakan adalah, Tuhan yang tertulis di kitab Perjanjian Lama itu adalah Tuhan yang sama di Perjanjian Baru. Jika di PL Tuhan sering menghukum manusia dengan memusnahkannya dari muka bumi, maka di masa yang akan datang entah sebentar lagi atau nanti, Tuhan juga pasti akan melakukannya lagi, pada waktunya Tuhan. Karena itu adalah sifat keadilan Allah.

Oleh karenanya, bertobatlah mulai dari sekarang, "mumpung" Tuhan masih bersabar terhadap kita dan masih ada kesempatan. - Tuhan Memberkati -

Kesimpulan

  • Tuhan dari dulu sampai sekarang dan sampai nanti tidak berubah. Dia adalah Allah yang adil namun juga penuh kasih
  • Orang modern sering menilai Tuhan di Perjanjian Lama sadis karena tidak memahami kondisi jaman dahulu.
  • Walaupun manusia berdosa, namun Tuhan menginginkan manusia bertobat dan Dia memberi peringatan sebelum melaksanakan hukuman.
  • Tuhan Panjang Sabar, tapi bukan berarti bisa dipermainkan.
  • Kita tidak bisa membuang kitab Perjanjian Lama. Untuk dapat mengenal Tuhan dengan baik, kita juga harus mempelajari PL.

Artikel lainnya: Apa Tuhan itu ada?


Artikel Lainnya:

 

©2009-2017 gadoga.com
Disclaimer | Kebijakan Privasi