Upgrade HDD ke SSD


10 Maret 2020 Oleh Ted

Tutorial ini bisa di praktekkan di Laptop, bisa juga di PC. Bisa pakai sistim Hybrid, jadi pakai HDD dan SSD bersamaan, bisa juga kalau kamu mau ganti HDD jadi SSD jadi cuma satu saja.

Di artikel ini saya akan pakai sistem Caddy di laptop tapi saya akan ajarkan juga caranya di PC dan juga di Laptop yang tidak punya slot CD ROM. Tenang, tidak perlu bingung karena ini gampang banget sebenarnya.

Apa semua PC / Laptop bisa upgrade pakai SSD?

Tutorial ini bisa di praktekkan di semua PC atau Laptop yang pakai HDD atau Hard Disk dengan kabel / konektor SATA dan sebagai info, mayoritas PC dan Latop yang keluar diatas tahun 2009 hingga sekarang itu sudah pakai konektor SATA.

Dibawah adalah tampilan konektor SATA (ada bagian seperti huruf "L"):

kalau HDD / Hard Disk kamu konektornya seperti diatas, berarti bisa. Tidak perduli itu SATA I, SATA II atau SATA III, selama itu pakai konektor SATA pasti bisa.

Hanya saja kalau laptop atau PC kamu cukup Β jadul dan hanya support SATA I lalu dipasang SSD SATA III, maka speed akan mentok di SATA I. Sebaliknya kalau laptop / PC kamu support SATA III lalu dipasang SSD SATA I, maka speed juga akan mentok di SATA I.

Kecepatan SATA:

  • SATA I: 1,5Gb/s
  • SATA II: 3Gb/s
  • SATA III: 6Gb/s

Just info, dibawah ini adalah tampilan kabel dan colokan IDE untuk PC lawas. Kalau PC kamu pakai kabel / konektor ini, berarti tidak bisa.

Konektor IDE:

Kabel IDE:

3 Langkah Upgrade HDD ke SSD:

Pada dasarnya Cuma butuh 3 langkah:

  1. Cloning atau copy file sistem operasi ke SSD.
  2. Pasang SSD ditempat yang tepat.
  3. Setting BIOS agar sistem operasi booting dari SSD.

Jenis-jenis SSD

Yang umum dipakai adalah SSD 2.5 inch. Ini ukurannya kurang lebih sama dengan Harddisk 2.5 inch yang memiliki lebar sekitar 7cm kurang sedikit.

Jenis kedua ada SSD mSATA. Ini ukuran lebih kecil dari SSD 2.5 inch. Ada juga ukuran M.2 SATA yang lebih kecil lagi dari mSATA. Ada juga SSD M.2 NVMe yang lebih cepat.

Ada juga SSD PCIe yang biasanya untuk perangkat gaming. SSD PCIe ada yang memiliki ukuran seperti SSD M.2, ada juga yang di desain untuk dapat digunakan pada slot PCI Express khusus di PC.

Sebenarnya ada juga SSHD yang memiliki ukuran biasanya sama dengan HDD 3.5 inch. SSHD merupakan campuran teknologi antara SSD dan HDD tapi kita tidak akan bahas disini.

Perlu beli SSD yang mana untuk upgrade?

Tergantung laptop dan PC kamu support yang mana. Tidak perlu bingung, cek saja spesifikasi laptop / pc. Yang pasti, kalau HDD kamu ukuran 2.5 inch atau 3.5 inch dan pakai kabel SATA, maka pasti bisa pakai SSD SATA yang ukuran 2.5 inch.

Kalau tidak ditulis di spesifikasi, kamu bongkar saja laptop / pc lalu cari apakah ada slot mSATA, M.2 atau sebagainya. Kalau tidak ada, maka beli saja SSD yang 2.5 inch.

Dan yang kedua, beli yang kapasitasnya cukup. Seberapa cukup akan dibahas nanti.

TAHAP #1: KLONING SISTEM OPERASI

Persiapan (Pengguna PC):

PERHATIAN! Selalu lepas PC / Laptop dari sumber listrik sebelum dibongkar

Untuk Β pengguna PC, hubungkan SSD ke motherboard menggunakan kabel SATA. Di motherboard biasanya ada lebih dari satu port SATA. Colok saja di salah satunya bebas saja, kecuali kalau PC Desktop kamu keluaran lama (kurang lebih 10 tahun yang lalu), cek di spesifikasi, Port SATA mana yang paling cepat. Pasang SSD di port yang tercepat.

Jangan lupa colok juga kabel power ke SSD.

Persiapan (Pengguna Laptop):

Untuk pengguna Laptop, buka bagian belakang lalu cek apakah ada slot khusus untuk tambah SSD tanpa perlu copot HDD yang lama. Kalau ada, ya tinggal pasang SSD yang baru di slot itu.

Laptop tanpa slot SSD dan CD ROM:

Kalau laptop kamu tidak punya slot CD ROM dan juga tidak ada slot untuk tambah SSD, maka tidak bisa hybrid, jadi cuma bisa pakai satu jenis penyimpanan saja. Kamu perlu beli external case SSD / HDD ukuran 2.5 inch. Pasang SSD di external Case lalu colok melalui kabel USB ke laptop. Fungsi External Case ini agar kita bisa copy / kloning sistem operasi ke SSD.

Laptop dengan slot DVD / CD ROM:

Kalau saya pakai laptop Lenovo Ideapad 310 yg 15 inch dan pakai sistem Caddy jadi nanti akan hybrid pakai SSD dan juga HDD. Dibawah ini adalah penampakan Caddy fungsinya untuk menaruh SSD atau HDD di tempat CD ROM.

Note: Kalau kita gunakan Caddy, maka kita tidak bisa pakai DVD / CD - ROM lagi di laptop karena tempatnya dipakai untuk SSD atau HDD kedua. Tapi kita bisa beli kabel mini SATA agar CD ROM bisa tetap dipakai dengan koneksi USB (jadi eksternal CD-ROM).

Ada dua ukuran Caddy, yaitu 9.5mm dan 12.7mm. Untuk tahu perlu beli yang mana, kamu lepas CD ROM-nya dulu. Sebelum di bongkar, tekan tombol Fn lalu S lalu V secara berurutan di Laptop Lenovo. Ini akan disconnect baterai dan Laptop tidak akan nyala ketika ditekan tombol Power. Nanti untuk nyalakan kembali, perlu sambung charger. Kalau laptop kamu merk lain, baca di buku petunjuk bagaimana cara disconnect baterai atau lewati saja tahap ini.

Cara melepas CD-ROM Laptop:

Untuk lepas DVD / CD ROM cuma perlu buka satu baut di bagian belakang yang sejajar CD ROM:

Setelah itu tarik CD ROM keluar.

Ukur pakai penggaris ketebalan CD ROM. Kalau dibawah 1cm berarti beli caddy yang 9.5mm. Kalau diatas 1cm, beli yang 12.7mm.

Sekarang kita tinggal pasang SSD di Caddy. Setelah itu masukkan ke tempat CD ROM Laptop.

Inisialisasi SSD

Setelah SSD terpasang di PC atau tersambung menggunakan external Case / Caddy, Kita nyalakan PC / Laptop. SSD yang baru tidak akan terdeteksi di My Computer karena belum terformat.

  1. Pencet tombol Windows + R untuk membuka menu Run.
  2. Ketik diskmgmt.msc untuk buka Disk Management. Kita perlu initialize disk SSD dulu.

Kalau muncul seperti dibawah, pilih GPT lalu OK.

Kalau tidak muncul, lihat di bagian bawah, cari Disk untuk SSD, bisa dilihat dari kapasitasnya atau yang unalocated. Klik kanan lalu pilih “Initialize Disk”. Kalau tidak ada pilihan “Initialize Disk”, cari pilihan: “Convert to GPT Disk”. Pilih GPT lalu ok. Setelah itu restart komputer.

Proses Kloning Sistem Operasi Windows

Install aplikasi Macrium Reflect

Selanjutnya proses Cloning. Kita akan pakai aplikasi Macrium Reflect. Ini gratis kok. Pilih yang Home Use. Masukkan Email Kamu. Buka Email untuk dapatkan link download.

“Clone this disk.”

Kita buka aplikasi Macrium lalu cari disk dimana Windows terinstall. Bisa lihat dari nama, kapasitas atau drive letter. Setelah itu Pilih “Clone this disk.”

“Select a Disk to Clone to…”

Setelah itu Klik “Select a Disk to Clone to…” Lalu pilih SSD kamu, bisa dilihat dari nama dan kapasitasnya.

Copy Drive C

Kita perlu copy drive yang ada sistem operasinya, biasa (Drive C:). Kalau pakai sistem Hybrid atau HDD akan masih kita pakai, tidak perlu copy Drive yang untuk file seperti drive D: E: dan lainnya.

Untuk copy tinggal klik kiri, tahan lalu tarik (drag) kebawah. Nah, sebelum beli SSD, pastikan kapasitasnya cukup untuk menyimpan setidaknya seluruh drive C: yang ada sistem operasinya (atau yang ada icon windows-nya).

Disarankan copy juga untuk partisi yang tidak ada Drive letter-nya jika ada (yang ada icon windows-nya). Ini biasa isinya adalah file recovery bawaan pabrikan laptop.

Kalau ada sisa ruang di SSD yang baru dan nanti akan jadi partisi baru. Kalau tidak mau jadi partisi baru, klik “Cloned Partition Properties” Lalu klik “Maximum Size” > OK.

Setelah itu klik Next beberapa kali. Lalu klik “Finish” lalu tidak perlu centang “save Backup”, klik OK untuk memulai proses kloning. Prosesnya akan memakan waktu, tergantung speed HDD dan SSD serta banyaknya file.

Membedakan HDD dan SSD

Setelah selesai, saat kita buka My Computer, kita akan menemukan dua drive yang isinya sama persis. Nah biar tidak bingung dan untuk membedakan, kita buka Drive C: yang merupakan HDD dan lokasi sistem operasi saat ini terinstall. lalu buat folder baru dan tulis “INI HDD LAMA”. Bebas saja kalau mau tulis yang lain karena ini hanya sebagai tanda saja. Setelah itu Matikan PC / Laptop.

TAHAP #2: PASANG SSD DI TEMPAT YANG TEPAT

Nah sekarang yang perlu kita lakukan adalah pasang SSD di tempat yang seharusnya untuk memastikan performanya maksimal. Kalau kamu pakai sistem Caddy seperti saya, maka perlu tukar posisi HDD ditaruh di caddy, dan yang SSD ditaruh di slot HDD sebelumnya.

Note:

  1. Kalau tadi kamu copy pakai external case, maka lepas SSD dari external case. Lepas HDD dari laptop, lalu pasang SSD di slot HDD laptop.
  2. Kalau kamu pengguna PC, maka tidak perlu tukar posisi port SATA (dengan catatan jika semua port SATA di motherboard memiliki maksimum kecepatan yang sama).

Kita buka slot HDD. Setelah itu tinggal angkat lalu tarik HDD. Note: Pada beberapa tipe laptop, untuk melepas HDD harus buka seluruh cover belakang laptop.

Lalu lepas / tarik semacam plastik atau karet di sekeliling HDD. Note: Ada juga yg pakai baut tergantung laptop.

Setelah itu pasang SSD di tempat HDD sebelumnya dengan proses kebalikannya.

TAHAP #3: PENGATURAN BIOS

Masuk ke BIOS

Untuk cara masuk BIOS bisa berbeda tergantung merk, cari saja di google. Kalau di Lenovo 310 setelah tekan tombol power, tekan tombol Fn + F2. Kalau di PC biasanya tekan tombol Del atau Delete, ada juga yang perlu tekan F2.

Masuk ke Boot Setting

Tampilan BIOS bisa beda-beda tergantung laptop / motherboard PC. Kita perlu atur agar boot pertama kali adalah dari SSD. Kita ke bagian Boot.

Bisa terlihat diatas, posisi boot utama masih HDD Toshiba, walau sudah tadi tukar posisi tapi kalau BIOS belum dirubah, tetap saja akan boot di HDD.

Atur agar SSD jadi FIRST BOOT

Nah kita perlu naikkan SSD jadi yang pertama. Baca saja petunjuknya di BIOS, kalau Lenovo Ideapad 310 saya pelu tekan Fn+F6 untuk menaikkan.

Save & Exit

Setelah itu save. Biasanya tekan F10. Kalau saya perlu tekan Fn+F10. Pilih Yes untuk save dan exit. Dia akan restart lalu masuk Windows.

Finalisasi

Jika sebelumnya sobat pakai HDD lalu upgrade ke SSD, maka pasti akan langsung merasakan perbedaan saat booting / start windows jadi jauh lebih cepat. Dan kamu sudah selesai upgrade / mengganti HDD ke SSD.

Kalau kamu pakai HDD dan SSD bersamaan (Hybrid), untuk pastikan kita sudah boot dari SSD, bisa buka My Computer. Cari dimana sistem operasi terinstall (biasa ada logo Windows-nya).

Dalam gambar diatas, OS ada di Drive C: karena hanya di drive C: yang terlihat ada logo Windows-nya. Kalau dilihat dari kapasitasnya, saya bisa pastikan bahwa Drive C: adalah SSD karena kapasitasnya lebih kecil dari HDD.

Tapi kalau kurang yakin, kita bisa buka drive C: lalu cari apakah ada folder "INI HDD LAMA..." yang tadi kita buat. (baca pada bagian " Membedakan HDD dan SSD" pada Tahap#1 diatas kalau bingung).

Sekarang kita cari Drive lain yang isinya sama seperti Drive C:

Dan setelah saya cek, folder yang isinya sama ada di Drive E:. Hanya beda satu folder "INI HDD LAMA..." yang tadi kita buat sebagai tanda atau pembeda.

Ini artinya:

  1. Drive C: adalah pasti SSD (karena tidak ada folder yang kita buat).
  2. Drive E: adalah pasti HDD (karena ada folder "INI HDD LAMA" yang kita buat sebagai tanda).
  3. Kita sudah sukses pindahkan OS ke SSD dan booting pakai SSD karena kita bisa lihat icon / logo Windows hanya ada di Drive C: yang merupakan SSD.

Kalau masih ragu, tekan Windows+R. Ketik diskmgmt.msc untuk buka Disk Management.

Diatas bisa terlihat drive C: ada di Disk 0 yang merupakan SSD. Sedangkan drive E: ada di Disk 1 yang merupakan HDD. (Kita bisa mengetahui dari kapasitas-nya)

Setelah itu kita bisa format Disk E: di HDD karena isinya semua sudah dipindah ke SSD. PERINGATAN!: jangan sampai salah format HDD, pastikan memformat Drive yang memang sudah tidak diperlukan / isinya sama dengan Drive C:.

Demikian artikel kali ini, semoga bisa berguna dan kalau kamu masih bingung, bisa menonton videonya dibawah:

- hardisk, hard disc, piranti keras -



Berlangganan (Free):



Copas emoticon: 😁 πŸ˜ƒ πŸ˜‚ πŸ˜… πŸ˜‡ 😈 πŸ˜‰ 😊 😌 😍 πŸ˜’ πŸ˜“ πŸ˜” 😳 πŸ˜– 😘 πŸ˜› 😑 😭 😱 😀 😎 πŸ‘ πŸ™

Jika dirasa artikel ini berguna, silahkan di share / dibagikan

Kembali ke atas πŸš€

©2009-2019 gadoga.com - V23.04.1
Disclaimer | Kebijakan Privasi